Kamis, 20 Oktober 2016

Kekuatan Iman yang Luar Biasa



Di suatu masa sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, ada seorang Raja yang mempunyai seorang ahli sihir (as sahir) sebagai penasehatnya. Raja ini ‘mentahbiskan’ dirinya sebagai Tuhan, sebagaimana terjadi pada Namrudz pada masa Nabi Ibrahim AS, dan Fir’aun pada masa Nabi Musa AS. Ketika sang sahir telah tua, ia meminta Raja untuk mengirimkan kepadanya seorang pemuda pilihan yang cerdas, yang akan dididiknya menjadi seorang ahli sihir, sehingga kelak bisa menjadi penasehat raja sebagai pengganti dirinya. Pemuda terpilih tersebut diperintahkan Raja untuk menemui as sahir setiap harinya.
Beberapa hari berlalu, di perjalanannya ke rumah as sahir Pemuda ini melihat seorang Rahib sedang mengajarkana agama Islam (keimanan kepada Allah sesuai dengan syariat Nabi yang diutus waktu itu) di rumahnya. Ia tertarik dan duduk pada majelis sang Rahib itu sehingga terlambat menemui as sahir dan mendapat siksaan. Ia mengalami kebimbangan, ajaran Rahib jelas lebih baik dan lebih tepat baginya, tetapi tidak mungkin ia begitu saja mengabaikan as sahir dan meninggalkan ajarannya. Bisa jadi Raja akan menghukumnya bahkan memerintahkan ia dibunuh karena keimanannya kepada Allah.
Ketika pemuda ini menyampaikan permasalahannya pada Rahib dan mengeluhkan siksaan yang dialaminya dari as sahir, Rahib berkata, “Berikan alasan pada sahir bahwa kamu terlambat karena ditahan oleh ibumu, dan jika ibumu menanyakan terlambatnya pulangmu, katakan kalau ditahan oleh as sahir…!!”
Begitulah berlalu beberapa lamanya sehingga pemuda ini makin mahir dalam dua bidang ilmu yang bertentangan itu. Suatu ketika ia melihat orang-orang terhenti pada suatu jalan karena ada binatang buas yang menghalangi. Mereka tidak berani melewatinya karena binatang itu tampak siap menyerang siapapun yang mendekatinya. Pemuda itu berkata dalam hati,”Hari ini aku akan mengetahui, ajaran sahir ataukah rahib yang lebih baik!!”
Sambil memungut batu kecil dan melemparkannya kepada binatang buas itu, ia berdoa, “Ya Allah, jika ajaran Rahib lebih Engkau sukai daripada ajaran sahir, bunuhlah binatang buas itu agar orang-orang bisa berjalan lagi ..!!
Dan ternyata binatang buas itu seketika mati ketika terkena batu tersebut. Sang pemuda menceritakan pengalamannya itu kepada Rahib, yang kemudian berkata, “Wahai anakku, engkau kini lebih utama daripada aku. Tetapi ketahuilah, sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan (bala’) karena keutamaanmu ini. Maka apabila bala’ itu datang padamu, janganlah sekali-kali engkau menunjuk (mengaitkan) aku.”
Allah memang memberikan karunia yang besar kepada pemuda tersebut, ia bisa mengobati berbagai macam penyakit, dan atas izin Allah menjadi sembuh. Bahkan penyakit yang menurut banyak orang tidak bisa disembuhkan seperti buta, belang, lepra dan berbagai penyakit lainnya. Pada mulanya hal itu tidak terlalu menarik perhatian, karena Raja dan masyarakat beranggapan pemuda itu memperoleh kehaliannya itu itu dari sahir.  Sampai pada suatu ketika ada seorang lelaki, kawan sang Raja yang telah lama mengalami kebutaan, mendatangi pemuda itu dan berkata, “Jika engkau bisa menyembuhkan penyakitku hingga aku bisa melihat lagi, maka aku akan memberikan apapun yang engkau minta, sebanyak apapun yang engkau inginkan..!!”
Pemuda itu berkata, “Aku tidak bisa menyembuhkan, tetapi hanya Allah yang memberikan kesembuhan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Jika engkau percaya kepada Allah, aku akan berdoa dan semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu…!!”
Lelaki itu segera menyatakan keimanannya kepada Allah, dan setelah sang Pemuda selesai berdoa, seketika ia bisa melihat kembali. Karena gembiranya, tanpa memperhitungkan apa yang akan terjadi, lelaki itu hadir kembali di majelis pertemuan Raja sebagaimana ia hadir sebelum mengalami kebutaan. Sang Raja sangat takjub dengan keadaannya dan berkata, “Siapakah yang menyembuhkan matamu?”
Mendengar pertanyaan itu, barulah lelaki itu sadar bahaya apa yang akan menimpanya jika ia berkata jujur. Tetapi tampaknya lelaki ini telah merasakan manisnya iman walau baru saja memasuki agama Islam, dengan tegas ia berkata, “Tuhanku yang menyembuhkanku!!”
Sang Raja berkata, “Apakah engkau percaya tuhan selain aku?”
Lelaki itu berkata, “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah!!”
Raja sangat marah dengan perkataannya itu. Ia memerintahkan prajuritnya untuk menyiksa lelaki itu untuk mencari tahu darimana ia memperoleh pengajaran tersebut, dan memaksanya untuk kembali kepada ajaran jahiliah, yang mempertuhankan dirinya. Bagaimanapun beratnya siksaan yang ditimpakan, ia tidak bergeming dari keimanan kepada Allah. Tetapi dalam puncak penderitaannya ia tidak bisa mengelak sumber pengajaran keimanannya, dan ia menunjuk pemuda itu sebagai ‘gurunya’.
Raja makin marah, pemuda yang dikadernya untuk menjadi penasehat kerajaan justru menjadi orang yang menentang ketuhanannya. Ketika pemuda itu didatangkan, Raja berkata, “Wahai pemuda, sungguh sihirmu telah mencapai puncaknya sehingga bisa menyembuhkan buta dan berbagai penyakit lainnya….”
Belum sempat Raja meneruskan ucapannya, sang Pemuda berkata, “Bukan saya yang menyembuhkan, tetapi Allah, Tuhanku dan Tuhanmu yang menyembuhkan!!”
Bukan main marahnya Raja, dan segera memerintahkan para prajuritnya untuk menyiksa pemuda tersebut. Berbagai macam siksaan ditimpakan tetapi pemuda itu tetap kokoh dengan keimanannya kepada Allah. Harta kekayaan, jabatan dan berbagai kenikmatan dunia ditawarkan agar ia bersedia kembali pada agama jahiliahnya, tetapi sama sekali ia tidak bergeming dari keimanannya kepada Allah. Tetapi pada akhirnya ia tidak bisa menutupi kalau yang mengajarkan keimanan itu adalah sang Rahib.
Sang Rahib ditangkap dan disiksa habis-habisan, tetapi seperti dua orang yang mengikuti pengajarannya, sama sekali ia tidak bisa dipengaruhi untuk mengubah keimanannya. Maka didatangkan sebuah gergaji besar, dan sang rahib dibelah menjadi dua, dari kepala hingga kakinya. Didatangkan lagi kawan raja, ketika ia tetap teguh dengan keimanannya kepada Allah, ia dibelah seperti halnya sang Rahib. Waktu pemuda didatangkan, sang Raja tidak segera memerintahkan pembunuhan dengan gergaji, tampaknya dia masih berharap pemuda itu menuruti kemauannya dan menempatkannya sebagai penasehat kerajaan. Ia berkata kepada sekelompok prajuritnya, “Bawalah pemuda ini ke atas gunung, dan tawarkan untuk kembali pada agamanya semula. Jika tetap menolak, lemparkanlah ia ke bawah hingga mati….!!”
Berangkatlah para prajurit itu memenuhi perintah raja. Ketika sampai di puncak gunung, pemuda itu berdoa, “Allahummak fiihim bimaa syi’ta (Ya Allah, hindarkanlah aku dari mereka ini sekehendak Engkau).”
Seketika gunung itu berguncang, dan para prajurit raja jatuh bergelimpangan hingga tewas. Sebenarnya bisa saja pemuda itu pergi menghindari raja demi keselamatannya, tetapi setelah melihat nasib yang dialami rahib dan kawan raja itu ‘jiwa dakwah’-nya justru muncul. Ia ingin lebih banyak lagi orang yang beriman, karena itu ia mendatangi lagi sang Raja, yang tentu saja kaget melihatnya dalam keadaan selamat. Raja berkata, “Mana para prajurit yang membawa kamu?”
Ia berkata, “Allah telah menghindarkan (menyelamatkan) aku dari rencana mereka!!”
Raja memerintahkan beberapa prajuritnya untuk membawa pemuda itu ke tengah laut dengan sebuah perahu. Setelah jauh dari daratan, mereka diperintahkan untuk menawarkan kepada pemuda itu kembali pada agama jahiliahnya, agama sang Raja. Jika menolak, hendaknya pemuda itu dilemparkan ke lautan hingga mati tenggelam.
Mereka segera berangkat sesuai perintah Raja, tetapi ketika sampai di tengah lautan, Sang Pemuda kembali berdoa, “Allahummak fiihim bimaa syi’ta (Ya Allah, hindarkanlah aku dari mereka ini sekehendak Engkau).”
Seketika perahu itu berguncang dengan hebatnya, para prajurit itu terjatuh ke dalam air dan semuanya tewas tenggelam, tinggal pemuda itu sendirian. Ia membawa perahu itu kembali ke daratan dan menghadap raja sebagaimana sebelumnya. Sang Raja berkata, “Mana para prajurit yang membawa kamu?”
Ia berkata, “Allah telah menghindarkan (menyelamatkan) aku dari rencana mereka!!”
Sebelum Raja sempat membuat makar (rencana) lain untuk membunuh dirinya, pemuda itu berkata, “Wahai Raja, engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali menurut cara yang aku ajarkan kepadamu.”
“Bagaimana caranya?”
Pemuda itu berkata, “Engkau kumpulkan semua rakyat di suatu tanah lapang, ikatlah aku pada suatu pohon dan panahlah aku dengan panah dan busurku. Sambil melepaskan anak panahnya, katakan : Bismilahir rabbil ghulam (Dengan nama Allah, Tuhannya pemuda ini). Jika itu engkau lakukan, maka engkau akan bisa membunuhku!!”
Tanpa menyadari apa rencana dan tujuan sang Pemuda memberikan saran seperti itu, sang Raja segera memerintahkan untuk melaksanakanmya. Mendengar perintah Raja untuk berkumpul dalam rangka mengeksekusi mati sang Pemuda, rakyat sangat antusias mendatangi tanah lapang kerajaan. Selama ini mereka telah mendengar dan melihat kehebatan pemuda itu sejak berhasil membunuh binatang buas hanya dengan batu kecil, sampai lolos dari kematian dari para prajurit yang siap membunuhnya. Mereka ingin tahu, kekuatan apa yang dimiliki oleh pemuda itu.
Pada waktu yang ditentukan, Raja mengarahkan anak panah pada pemuda yang telah diikat pada sebuah pohon, sambil melepaskannya ia berkata, “Bismilahir rabbil ghulam!!”
Panah itu mengenai pelipis sang Pemuda, rakyat melihat penuh tanda-tanya apa yang akan terjadi. Akankah ia lolos dari kematian seperti sebelumnya? Pemuda itu meletakkan tangannya di pelipisnya yang terluka, darah mengalir dari sela-sela jemarinya. Tidak ada kata yang terucap, sama sekali tidak tampak rasa kesakitan dan ketakutan di wajahnya, justru yang terlihat adalah ketenangan dan kesejukan yang mempesona rakyat yang mengamati wajahnya yang bersimbah darah. Perlahan ia melemah dan akhirnya meninggal, syahid dalam dalam mempertahankan dan mendakwahkan keimanannya kepada Allah.
Setelah Raja dan para prajuritnya meninggalkan tempat tersebut, beberapa orang dari rakyat kerajaan itu berkata, “Aamanna birabbil ghulam.”
Sedikit demi sedikit orang-orang mengikutinya, sehingga akhirnya hampir merata orang-orang di tanah lapang itu beriman kepada Allah. Hal itu terus berkembang sehingga makin banyak orang yang beragama Islam, yang sebenarnya sangat ditakutkan Raja akan terjadi di kerajaannya. Sesuatu yang tanpa disadarinya terjadi karena ‘ambisinya’ sendiri, yakni membunuh sang Pemuda untuk mempertahankan ‘ketuhanannya’. Ia tidak sadar bahwa tanpa sengaja ia telah menunjukkan jalan keimanan kepada Allah.
Ketika hal itu dilaporkan kepada sang Raja, ia memerintahkan untuk membuat parit besar di setiap persimpangan jalan, di dalamnya dinyalakan api yang membara. Setiap orang yang lewat ditanya kepercayaannya, jika ia beriman kepada Allah, ia akan diperintahkan untuk murtad. Jika menolak, ia akan didorong masuk ke dalam parit api tersebut. Banyak sekali yang disiksa dan tewas dalam parit api itu karena mempertahankan keimanan kepada Allah. Mereka lebih baik mati syahid sebagaimana dicontohkan sang Pemuda, daripada harus kembali pada agama jahiliahnya. Bahkan ada seorang ibu yang menggendong bayinya, ketika hampir menyerah karena anak kesayangannya akan dilempar ke dalam api, tiba-tiba sang bayi itu berkata, seperti halnya Nabi Isa AS yang berbicara ketika bayi, “Wahai ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau dalam kebenaran yang sesungguhnya (al haq)..!!”
Peristiwa ini disitir dalam Al Qur’an Surah Al Buruuj ayat 4-9, “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

Note:ii26

Rabu, 24 Juni 2015

Sebuah Kisah di Perjalanan Dzulqarnain

Dzulqarnain, sebagian ulama menyebutnya Iskandar Dzulqarnain, dan sebagian sejarawan menisbahkannya kepada (menganggapnya sebagai) The Great Alexander from Macedonia, adalah salah satu tokoh yang diceritakan oleh Al Qur’an, walaupun ia bukan salah seorang Nabi dan Rasul, setidaknya tidak ada riwayat jelas dan secara pasti yang menyebutnya. Kisah yang tercantum dalam QS Al Kahfi ayat 83 hingga 98 itu menyebutkan bahwa Dzulqarnain adalah seorang raja atau panglima perang dengan pasukan yang sangat kuat, yang Allah memberikan kekuasaan, kekayaan dan kemampuan kepadanya untuk mencapai maksud dan keinginannya. Dan ia seorang yang saleh dan sangat taat kepada Allah, dan menyeru manusia atau kaum yang dikunjunginya untuk beriman dan taat kepada Allah.
Al Qur’an menyebutkan bahwa Dzulqarnain melakukan perjalanannya ke segala penjuru, dan bertemu dengan beberapa kaum, tetapi memang tidak semua kisah diceritakan, karena Al Qur’an memang bukanlah kitab kumpulan cerita orang-orang di masa lalu. Dalam salah satu perjalanannya, tidak disebutkan dimana tempat pastinya, Dzulqarnain bertemu suatu kaum yang sangat miskin, mereka tidak memiliki harta benda apapun yang bisa dibuatnya untuk bersenang-senang. Setiap orang di kaum itu memiliki (menggali) lubang kuburannya sendiri, dan setiap pagi hari mereka membersihkannya (menyapunya), kemudian mengerjakan shalat (ibadah) di sisi kuburannya. Jika merasa lapar, mereka pergi bertebaran mencari sayuran atau tumbuhan untuk makanan, layaknya binatang ternak yang mencari rerumputan untuk makanannya. Sepertinya Allah mentakdirkan kaum itu untuk bisa hidup bertahan dengan tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitarnya.
Tertarik dengan apa yang dilihatnya itu, Dzulqarnain mengirim seorang utusan menemui pemimpin kaum itu, dan memintanya untuk menghadap. Tetapi sang pemimpin berkata, “Saya tidak mempunyai keperluan dengannya, jika dia mempunyai keperluan denganku, hendaknya dia yang datang kepadaku…!!”
Walau seorang raja atau pemimpin besar dengan pasukan yang sangat kuat, ia tidak marah dengan jawaban tersebut, justru ia berkata sendiri, “Benar dia!!”
Kemudian bersama beberapa orang dekat kepercayaannya, ia berjalan menuju tempat sang pemimpin kaum itu, dan berkata, “Saya telah mengutus seorang utusan untuk mengundangmu tetapi engkau tidak mau, dan inilah saya sendiri yang datang kepadamu…”
Sang pemimpin berkata, “Jika saya yang mempunyai keperluan kepadamu, niscaya saya yang akan datang kepadamu…”
Dzulqarnain berkata, “Saya telah menjelajah ke segala penjuru bumi dan banyak bertemu dengan kaum dan umat dengan segala macam perilakunya, tetapi saya belum pernah melihat perilaku kaummu ini!!”
Sang pemimpin berkata, “Perilaku seperti apa?”
Dzulqarnain berkata, “Kalian tidak mempunyai kekayaan dunia dan tidak ada apa-apa yang kalian miliki. Mengapa kalian tidak mengambil emas dan perak, supaya kalian bisa bersenang-senang?”
Sang pemimpin berkata, “Sesungguhnya kami membenci emas dan perak, karena tidak ada seorangpun yang mau memberikan sedikit dari emas dan peraknya, kecuali ia mempunyai tujuan (merindukan) untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih utama dari keduanya itu..”
Dzulqarnain berkata lagi, “Apa tujuan kalian menggali (memiliki) kuburan masing-masing dan menyapunya setiap pagi, kemudian shalat di sampingnya?”
Sang pemimpin berkata, “Dengan perilaku itu, jika kami mempunyai cita-cita (yang sifatnya) dunia, maka kuburan itu akan bisa mencegah (memadamkan) cita-cita tersebut.”
Dzulqarnain berkata, “Saya melihat kalian hanya makan sayuran dan tumbuhan dari bumi, bukankah lebih baik jika kalian mengambil (memelihara) hewan-hewan ternak saja. Kalian bisa mengambil air susunya, memakan dagingnya, menggunakannya sebagai kendaraan dan bisa bersenang-senang dengan binatang-binatang itu…”
Sang pemimpin berkata, “Kami tidak senang menggunakan perut-perut kami sebagai kuburan dari binatang ternak tersebut. Kami menganggap tumbuhan dari bumi telah mencukupi hajat kebutuhan kami. Makanan apapun telah hilang rasanya jika telah melewati rongga mulut!!”
Kemudian pemimpin itu menjulurkan tangannya ke tanah di belakang Dzulqarnain, dan ternyata ia mengambil sebuah tengkorak yang telah rusak, ia berkata, “Wahai Dzulqarnain, tahukah kamu tengkorak siapakan ini?”
Dzulqarnain berkata, “Tidak, tengkorak siapakah itu?”
Sang pemimpin berkata, ”Inilah tengkorak seorang raja dari beberapa raja di bumi, dimana Allah telah memberikan kekuasaan kepadanya atas penduduk bumi, lalu ia berbuat sewenang-wenang, dzalim dan melampaui batas. Maka Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Suci melihatnya berbuat seperti itu, dan memutuskan kematian untuknya, maka jadilah raja tersebut laksana batu yang tercampakkan. Dan Allah akan menghitung (menghisab) amal perbuatannya, dan akan membalasnya di akhirat kelak….!!”
Sesaat diam, sang pemimpin mengambil satu tengkorak lainnya yang keadaanya juga telah rusak, dan berkata, “Hai Dzulqarnain, tahukah kamu, tengkorak siapakah ini?”
Dzulqarnain berkata, “Tidak, tengkorak siapakah itu?”
Sang pemimpin berkata, “Ini adalah tengkorak seorang raja, yang ditetapkan Allah menjadi raja setelah raja yang berbuat dzalim tersebut. Melihat kedzaliman raja pendahulunya, maka ia berbuat tawadhu dan khusyu’ kepada Allah. Ia memerintah dengan kebaikan dan keadilan hingga kerajaannya menjadi negeri yang sejahtera, tetapi engkau lihat, ia hanya akan menjadi seperti ini, dan Allah akan menghitung (menghisab) amal perbuatannya dan memberikan balasan di akhirat kelak…!!”
Sesaat terdiam, tanpa diduga siapapun, tiba-tiba sang pemimpin itu bangkit dan memegang kepala Dzulqarnain, kemudian berkata, “Dan tengkorak ini, akan menjadi seperti dua tengkorak itu, maka Dzulqarnain, perhatikanlah apa yang akan engkau lakukan!!”
Sebagai raja/panglima perang agung yang menguasai wilayah timur dan barat, dan telah menaklukan berbagai bangsa dan suku di berbagai penjuru bumi, Dzulqarnain merasa terkejut diperlakukan seperti itu, tetapi ia tidak marah karena memang melihat ada kebenaran pada ucapannya itu. Justru ia berkata, “Apakah engkau mau bersahabat denganku, tinggal bersamaku, maka engkau kujadikan saudara atau menteri, dan menjadi orang yang menemaniku dalam harta dan kekuasaan yang dianugerahkan Allah kepadaku?”
Sang pemimpin itu berkata, “Alangkah baiknya jika engkau dan aku berada pada suatu tempat, dan tidak ada semuanya itu (yakni harta dan kekuasaan) di antara kita!!”
Dzulqarnain berkata, “Mengapa ?”
Sang pemimpin itu berkata, “Banyak orang yang memusuhimu karena kekuasaan yang ada di tanganmu, begitu juga dengan kerajaan, harta dan perihal duniawiah lainnya. Dan tidak kudapati ada orang yang memusuhiku, karena aku menolak itu semua. Tidak ada kebutuhan dan apa-apa (dari perihal duniawiah) yang membebaniku…!”
Dzulqarnain tidak bisa berkata apa-apa lagi karena semua yang dikatakannya memang mengandung kebenaran. Hanya saja ia dan orang-orang yang mengiringinya tidak lepas dari rasa keheranan, sekaligus kekaguman, bahwa ada orang, bahkan sekelompok orang yang bisa bersikap dan hidup seperti itu.     
       
Note:iu6-289

Permintaan Nabi Adam AS dan Iblis

Ketika Nabi Adam AS dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi karena melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah dari pohon kayu (Iblis menyebutkannya buah khuldi, buah keabadian), ia berkata, “Wahai Allah, inilah dia iblis, yang Engkau telah menjadikan dia sebagai musuh bagiku, permusuhan yang tiada habisnya. Jika Engkau tidak menolongku untuk melawannya, niscaya aku tidak akan mampu melawannya…!!”
Maka Allah berfirman, “Tidak dilahirkan seorang anak bagimu, melainkan seorang malaikat telah diwakilkan kepadanya.”
Nabi Adam berkata, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku!”
Allah berfirman, “Sesungguhnya satu keburukan yang dilakukan anak keturunanmu akan Aku balas dengan satu keburukan, sedangkan satu kebaikan yang dilakukannya akan Aku balas dengan sepuluh kebaikan, atau akan Aku lebih lipat gandakan sebanyak yang Aku kehendaki.”
Nabi Adam berkata lagi, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah aku!”
Allah berfirman, “Pintu taubat akan selalu terbuka bagi anak keturunanmu, selama ruh masih melekat pada jasadnya.”
Mendengar permintaan Nabi Adam tersebut, Iblis segera mengajukan permintaan juga. Ia berkata, “Wahai Tuhanku, inilah dia seorang hamba, yang Engkau telah memuliakannya di atasku, jika Engkau tidak menolongku untuk menghadapinya, niscaya aku tidak mampu mengalahkannya”
Allah berfirman, “Tidak dilahirkan seorang anak bagi Adam, melainkan dilahirkan pula seorang anak bagimu.”
Iblis berkata lagi, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku!”
Allah berfirman, “Engkau berjalan pada mereka pada beredarnya darah, dan engkau bisa menjadikan hati mereka sebagai rumah-rumahmu.”
Ia berkata lagi, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku!”
Maka Allah berfirman kepada Iblis, sebagaimana disitir dalam QS Al Isra 24, “Dan bujuklah (goda) siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.”

Note:iu5-58

Minggu, 02 November 2014

Dua Butir kurma yang Menghalangi

Abu Ishaq Ibrahim bin Adham bin Manshur adalah seorang sufi, yang sebelumnya adalah putera seorang penguasa (Raja) di wilayah Balkh, termasuk wilayah Khurasan, Persia. Setelah memutuskan untuk meninggalkan kemewahan hidupnya di Balkh, ia memilih hidup zuhud dan berjalan kaki mengarungi padang sahara menuju Makkah. Ia tinggal di sana beberapa waktu lamanya bersama Sufyan Tsauri dan Fudhail bin Iyadh, dan akhirnya pindah ke Syam (Syria) hingga wafatnya pada tahun 161 H atau 778 M.
Ketika tinggal di Makkah, setiap tahunnya Ibrahim bin Adham mempunyai ‘kebiasaan’ berziarah ke Masjidil Aqsha untuk berkhalwat, dan i’tikaf semalaman di ruangan atau bagian masjid yang disebut Qubbatus Shahra. Menurut riwayat, Qubbatus Shahra ini adalah batu besar yang dijadikan pijakan Nabi SAW dan malaikat Jibril ketika akan naik ke langit melakukan Mi’raj. Batu besar (Shahra=batu karang atau batu besar yang keras) tersebut sempat ikut ‘terbang’ dan naik mengikuti mereka berdua, tetapi kemudian diketahui oleh malaikat Jibril dan diperintahkan turun kembali. Dengan terpaksa sang batu turun kembali, tetapi ia ‘ngambek’ tidak mau menyentuh tanah dan ‘menggantung’ beberapa meter tingginya. Setelah berlalunya waktu, dibangunlah sebuah penyangga sehingga batu besar itu menjadi semacam kubah di Masjidil Aqsha tersebut. Wallahu A’lam.
Suatu ketika ia berangkat ke Masjidil Aqsha seperti kebiasaannya. Saat itu ada peraturan bahwa di malam hari tidak boleh ada yang tinggal atau menginap di dalam masjid, karena malam hari menjadi ‘bagian’ dari para malaikat untuk beribadah di dalamnya. Karena itu Abdullah bin Adham harus sembunyi-sembunyi agar tidak dikeluarkan oleh petugas, dan bisa melakukan amalan istiqomah tahunannya, yakni i’tikaf di Qubbatus Shahra di malam hari.
Malam telah larut dan Ibrahim telah lolos dari pengawasan petugas, ia mulai melaksanakan amalan-amalannya untuk mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah. Para malaikat mulai datang, dan salah satunya berkata, “Ternyata di dalam masjid ini masih ada manusia!!”
Tidak ada penjelasan apakah Ibrahim bin Adham melihat kehadiran para malaikat itu, tetapi ia bisa mendengar pembicaraannya. Malaikat lainnya berkata, “Ya benar, dia adalah Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah yang berasal dari kota Khurasan…”
Malaikat lainnya berkata, “Ya, dia adalah seorang ahli ibadah yang semua amal ibadahnya langsung naik ke langit dan diterima setiap harinya!!”
Salah malaikat lainnya langsung menyahuti, “Ya, memang benar seperti itu, tetapi dalam setahun ini amal ibadahnya terhenti dan tertahan di langit. Begitu juga dengan doa-doanya, kini tertunda pengabulannya hanya karena dua biji kurma yang pernah dimakannya sekitar satu tahun yang lalu!!”
Ibrahim langsung tersentak kaget dengan perkataan malaikat yang terakhir itu. Konsentrasi dan fokus amalannya langsung buyar, ia berfikir keras dan mencoba mengingat-ingat tentang dua butir kurma itu. Kurma bisa dikatakan sebagai makanan pokok sehari-hari di Makkah dan daerah jazirah Arabia lainnya saat itu, sehingga ia agak kesulitan untuk mengingat dua butir kurma mana yang menjadi ‘penghalang’ diterimanya amal ibadah dan doa-doanya dalam setahun ini.
Setelah lama berfikir ia mulai ingat, suatu kali ia membeli kurma dari seorang lelaki yang sudah sangat tua. Ketika proses berlangsung dan sudah ‘deal’ harganya, akad jual-beli juga sudah diucapkan, ada dua butir kurma jatuh di dekat kakinya. Tanpa berfikir panjang Ibrahim mengambil dan memakannya, karena ia merasa kurma itu bagian dari yang telah dibeli dan kemudian dibayarnya. Ia berkata dalam hatinya, “Tentulah dua butir kurma itu yang dimaksudkan oleh malaikat tersebut!! Aku harus meminta ridho (kerelaan) dari pemiliknya…”
Keesokan harinya Ibrahim bin Adham langsung kembali ke Makkah. Setelah berhari-hari berjalan kaki mengarungi padang pasir, ia sampai di Makkah dan langsung ke tempat penjual kurma yang dimaksudkan. Tetapi lelaki tua yang menjual kurma itu tidak ada, digantikan oleh seorang pemuda. Ibrahim berkata, “Sekitar setahun yang lalu, ada seorang penjual kurma yang sudah tua di sini, tolong beritahu aku dimana dia sekarang berada?”
Sang pemuda berkata, “Dia adalah ayahku, beliau telah meninggal dunia!!”
Tampak kesedihan yang amat dalam di wajah Ibrahim, melihat reaksinya itu, sang pemuda berkata, “Apakah yang telah terjadi antara tuan dengan ayahku sehingga tuan begitu bersedih!!”
Ibrahim menceritakan peristiwa dua butir kurma yang terjadi setahun yang lalu, dan ia meminta kehalalannya karena telah terlanjur dimakannya. Sang pemuda tampaknya juga merasa kaget sekaligus heran dengan sikap Abdullah bin Adham tersebut. Hanya karena dua butir kurma itu, dampaknya begitu ‘luar biasa’, ia berkata, “Baiklah, saya memberi ridha (kehalalan) pada tuan atas dua butir kurma itu. Hanya saja, bukan hanya saya saja ahli waris dari ayah, tetapi ada ibu dan saudara perempuan saya. Mungkin tuan ingin juga meminta kehalalan dari mereka berdua!!”
“Baiklah, “ Kata Ibrahim.
Setelah memperoleh informasi tempat tinggalnya, Ibrahim bin Adham segera menemui mereka, yang tentu saja tidak berkeberatan menghalalkan dua butir kurma yang terlanjur dimakan olehnya. Setelah itu Ibrahim bin Adham kembali mengarungi padang pasir menuju Baitul Maqdis, ia i’tikaf lagi di Qubbatus Shahra, walau dengan sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya. Saat malam telah larut dan malaikat mulai berdatangan, ia mendengar percakapan mereka. Salah satunya berkata, “Ternyata di dalam masjid ini masih ada manusia!!”
Malaikat lainnya berkata, “Dia adalah Ibrahim bin Adham, amal ibadahnya yang setahun itu tertahan di langit, dan doa-doanya yang tertunda pengabulannya, kini telah diterima oleh Allah karena ia telah meminta kehalalan dari dua butir kurma yang telah dimakannya dengan cara tidak benar!!”
Mendengar pembicaraan itu Ibrahim langsung sujud syukur, ia sampai menangis karena gembiranya. Sejak saat itu ia sangat berhati-hati ketika akan makan, dan itupun dilakukannya hanya sekali dalam seminggu.

Perjalanan Umar RA ke Baitul Maqdis

Walaupun setiap zaman selalu saja ada sosok pemimpin yang mempunyai jiwa pengabdian dan perhatian yang besar kepada orang-orang kecil, tetapi tidak ada yang bisa menandingi ‘kebesaran’ Umar bin Khaththab RA dalam hal ini, tentunya selain Nabi SAW dan para Rasul Allah lainnya. Banyak sekali peristiwa luar biasa yang menunjukkan keadilan dan kerendah-hatian Khulafaur Rasyidin yang kedua ini, salah satunya adalah ketika kaum muslimin berhasil menaklukan dan menguasai Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha.   
Pada tahun 16 hijriah pasukan muslim mengepung kota al Quds, kota tempat Baitul Maqdis berada, yang termasuk wilayah kekuasaan Romawi. Setelah beberapa waktu lamanya dalam pengepungan, akhirnya gubernur al Quds, Beatrice Sofernius menyerah. Ia bersedia menyerahkan kota tersebut, termasuk Baitul Maqdis, tetapi ia mensyaratkan akan menyerahkan langsung kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab. Karena itu komandan pasukan mengirim surat untuk meminta kehadiran Umar ke sana.
Umar langsung memenuhi permintaan tersebut. Tidak seperti umumnya seorang pejabat yang menerima penyerahan kota karena suatu kemenangan, ia berangkat ke Al Quds hanya dengan seorang pembantunya dan hanya dengan satu tunggangan (kuda atau onta), karena memang hanya itu yang dimiliki Umar. Walau sebagai seorang ‘kepala negara’, Umar tidak mau menggunakan kekayaan negara yang dalam penguasaannya, termasuk kendaraan/tunggangan, karena ia merasa bahwa ia harus mempertanggung-jawabkan hal itu di akhirat kelak. Ia meyakini, bahwa akan lebih mudah dan lebih selamat baginya di yaumul hisab, jika sesedikit mungkin menggunakan ‘fasilitas’ negara (baitul maal).
Ketika memulai perjalanan dan sampai di luar kota Madinah, Umar berkata kepada pembantunya, “Wahai Ghulam, kita berdua hanya memiliki satu tunggangan. Jika saya naik dan engkau berjalan kaki, artinya aku menzhalimimu. Jika engkau naik dan aku berjalan kaki, engkau yang menzhalimiku. Jika kita berdua naik, kita menzhalimi tunggangan kita…”
“Kalau begitu bagaimana sebaiknya, ya Amirul Mukminin?” Kata pembantunya itu.
Umar berkata, “Marilah kita bagi tiga periode waktu, pertama aku yang menaikinya, kedua engkau yang menaikinya, dan ketiga, biarlah tunggangan kita melenggang tanpa beban, sekalian untuk waktu istirahatnya tanpa menunda waktu.”
Pelayannya tersebut menyetujuinya. Umar memperoleh giliran pertama menaikinya, setelah waktu yang disepakati habis, ganti sang pelayan yang menaikinya, dan setelah waktunya habis, mereka berdua membiarkan tunggangannya bebas. Begitulah giliran itu bergulir terus, ketika telah memasuki pintu kota al Quds, ternyata bertepatan dengan selesainya giliran Umar, dan ia turun sambil berkata kepada pembantunya, “Kini giliranmu, naiklah!!”
Sang pembantu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau jangan turun dan saya tidak mungkin naik. Kita telah sampai di kota tujuan, di sana ada peradaban, kemajuan dan berbagai pemandangan modern. Jika kita datang dengan keadaan ini, saya naik sedang engkau menuntun, tentu mereka akan merendahkan dan mentertawakan kita. Dan itu akan mempengaruhi kemenangan kita!!”
Tetapi dengan tegas Umar berkata, “Naiklah, ini giliranmu. Demi Allah, kalau memang waktunya giliranku, aku tidak akan turun dan engkau tidak perlu naik!!”
Inilah memang ciri khas Umar bin Khaththab ketika menjadi khalifah, ia selalu takut berlaku zhalim dan bersikap tidak adil, walau terhadap rakyat kecil. Kalau ia harus tetap naik tunggangan hanya karena telah memasuki kota al Quds, ia yakin Allah akan ‘mempertanyakan’ dan meminta pertanggung-jawabannya di yaumul hisab kelak..
Ketika masyarakat kota yang menyambut mereka di Babul (pintu kota) Damaskus melihatnya, mereka langsung mengelu-elukan sang pembantu yang menunggang dan mengabaikan Umar yang menuntun tunggangan. Memang, dalam penampilan dan baju yang dikenakan, Umar tidaklah jauh berbeda dengan pembantunya tersebut. Bahkan ada beberapa orang yang melakukan penghormatan dengan sujud, sehingga pembantu itu memukulnya dengan tongkatnya, sambil berkata, “Celaka kalian, angkatlah muka kalian, sungguh tidak boleh bersujud kecuali kepada Allah semata..!!”
Ketika tiba di hadapan gubernur Beatrice Sofernicus dan pasukan muslimin, mereka baru mengetahui kalau Amirul Mukminin Umar bin Khaththab itu adalah yang berjalan menuntun tunggangan, karena mereka menyapa dan menyalaminya.
Setelah melakukan serah terima kota al Quds, Beatrice mengajak Umar untuk meninjau Gereja Kiamah, dan Umar memenuhi permintaannya itu. Di tengah peninjuan itu tiba waktu shalat, maka Umar berkata, “Di mana saya bisa shalat?”
Beatrice menunjuk salah satu ruangan di dekatnya berdiri, maka Umar-pun berkata, “Umar tidak mungkin shalat di gereja Kiamah ini. Nanti di kemudian, kaum muslimin akan berkata : Di sini Umar pernah menjalankan shalat. Maka mereka akan menghancurkan gereja ini dan membangun masjid di reruntuhannya…!!”
            Kemudian Umar keluar dari gereja dan mendirikan shalat di tempat terbuka, sejauh jarak lemparan batu, diikuti oleh pasukan muslimin yang hadir. Di kemudian hari, kaum muslimin mendirikan masjid di tempat itu, yang diberi nama Masjid Umar bin Khaththab, berdiri megah tidak jauh dari gereja Kiamah tersebut. 

Rabu, 04 Juni 2014

Ketika Takut Kepada Allah

Ibrahim bin Ahmad bin Ismail, nama kunyahnya Abu Ishaq, atau lebih dikenal dengan Ibrahim al Khawwas, adalah seorang tokoh sufi yang sezaman dengan Junaid al Baghdadi dan Abul Husain an Nuri. Beliau sangat kuat dalam tawakal dan sangat gencar dalam riyadhah, beliau wafat karena sakit perut ketika riyadhahnya, pada tahun 291 H (atau 904 M) di Ar Ray. Salah satu nasehat beliau adalah tentang obat hati yang lima, yang sekarang ini banyak dijadikan bahan lagu pujian, tembang dan lagu-lagu rohaniah (Islam tentunya).
Suatu ketika Ibrahim al Khawwash sedang dalam suatu perjalanan atau perantauan bersama beberapa orang lainnya. Menjelang malam di dekat suatu hutan, mereka beristirahat dan bersiap tidur, tetapi tiba-tiba datang seekor harimau yang duduk bersimpuh di dekat mereka. Tentu saja mereka lari menyelamatkan diri dengan naik ke sebuah pohon yang tidak jauh letaknya. Mereka duduk, mungkin juga sampai tertidur di cabang pohon itu hingga pagi tiba, tetapi anehnya, Ibrahim bin Khawwash dengan tenangnya tidur tanpa perasaan takut dan khawatir akan ancaman harimau itu.
Ketika fajar menjelang, sang harimau meninggalkan tempat itu begitu saja, tanpa ada insiden penyerangan. Setelah melaksanakan shalat subuh, mereka melanjutkan perjalanan. Pada malam harinya, mereka tiba di suatu masjid dan bermalam di sana. Tengah malam, ketika semua orang sedang asyiknya tertidur, tiba-tiba terdengar teriakan Ibrahim bin Khawwash, semacam teriakan ketakutan yang membangunkan semua orang di masjid itu. Salah seorang bertanya, “Wahai Abu Ishaq, apa yang terjadi dengan dirimu?”
Ibrahim berkata, “Seekor kepinding jatuh tepat di wajahku, yang membuatku terkejut dan ketakutan!!”
Mereka berkata, “Sungguh ajaib, kemarin engkau tidur bersebelahan dengan harimau tetapi engkau tenang-tenang saja, tertidur tanpa terganggu. Tetapi hanya karena seekor kepinding, kali ini engkau berteriak membangunkan orang semasjid!!”
Ibrahim berkata, “Kemarin itu aku sedang diliputi perasaan takut kepada Allah dan bergantung kepadanya, sehingga aku ‘terambil’ dari diriku sendiri. Kali ini aku dikembalikan kepada diriku sehingga aku merasa takut walau hanya terhadap kepinding!!”         

Note:asq124rq604

Melihat Kesalahan Diri Sendiri (Introspeksi)

Di masa sebelum diutusnya Rasulullah SAW, ada seorang lelaki saleh dari Bani Israil yang mempunyai amalan yang sungguh luar biasa. Telah tujuhpuluh tahun lamanya ia berpuasa dan hanya berbuka setiap tujuh hari sekali. Dalam beberapa waktu terakhir, ia selalu berdoa kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana cara syaitan menyesatkan manusia. Ia berharap, dengan mengetahui hal itu ia bisa menghindari jalan dan cara yang digunakan syaitan tersebut.
Beberapa waktu lamanya berdoa, bahkan ia menambah beberapa aktivitas ibadahnya tetapi Allah belum juga mengabulkannya. Sebagai seorang yang saleh, ia menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya, yakni sikap batinnya dalam berdoa, maka ia berkata kepada dirinya sendiri, “Jika saja aku bisa melihat dosa dan kesalahan antara aku dan Tuhanku, tentulah hal itu lebih baik daripada apa yang aku minta (yakni melihat syaitan)…!!”
Kemudian Allah SWT mengutus salah satu malaikat, dan sang malaikat berkatanya, “Sesungguhnya Allah mengutus aku kepadamu, dan Allah berfirman : Sesungguhnya perkataan (terakhir) yang engkau katakan itu jauh lebih baik daripada seluruh ibadah yang telah engkau lakukan di masa lalu….”
Malaikat itu melanjutkan, “Karena hal itulah Allah mengijinkanmu untuk melihat, maka sekarang lihatlah apa yang engkau inginkan….!!”
Lelaki Bani Israil itu melihat bagaimana tentara-tentara iblis mengitari bumi, bergerak antara langit dan bumi dengan bebas dan cepatnya. Tidak ada seorang manusiapun kecuali setan-setan itu mengitarinya untuk menggelincirkannya, layaknya sekelompok serigala yang mengitari seekor kambing untuk disantap menjadi makanannya. Ia berkata seperti putus asa, “Wahai Tuhanku, siapakah yang bisa selamat dari semua itu?”
Allah berfirman, “Yang bisa selamat adalah orang-orang yang wara’ dan bersikap lemah lembut kepada sesamanya!!”
Makna wara’ sangat luas, tetapi secara ringkas bisa dikatakan sebagai sikap waspada dan hati-hati, berusaha menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang bisa membuatnya jatuh ke dalam dosa.

Note:iu4-19